Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bilibili Makin Besar, YouTube dan TikTok Perlu Waspada?

Bilibili makin besar dan bersaing dengan YouTube dan TikTok

Kalau selama ini kamu menganggap Bilibili hanya sebagai platform video dari China yang identik dengan anime, gaming, dan komunitas anak muda, mungkin sekarang waktunya melihatnya dengan perspektif berbeda.

Bilibili sedang tumbuh semakin besar.

Yang menarik, pertumbuhannya bukan cuma terlihat dari jumlah pengguna. Waktu yang dihabiskan pengguna di platform, bisnis iklan, jumlah kreator, hingga profitabilitasnya juga ikut menunjukkan perkembangan.

Dalam laporan kuartal kedua 2026, Bilibili mencatat sekitar 116,5 juta pengguna aktif harian dan sekitar 371 juta pengguna aktif bulanan. Waktu penggunaan harian rata-rata mencapai 113 menit per pengguna.

Pendapatan iklannya bahkan tumbuh 28% secara tahunan menjadi sekitar RMB3,13 miliar pada kuartal tersebut.

Lalu muncul pertanyaan yang cukup menarik:

Kalau Bilibili terus tumbuh seperti ini, apakah YouTube dan TikTok perlu mulai waspada?

Jawabannya: iya, tetapi bukan berarti Bilibili sudah menjadi pesaing langsung yang setara secara global.

Justru yang menarik adalah bagaimana Bilibili membangun model yang berbeda dari YouTube dan TikTok.

Bilibili Sedang Tumbuh, Bukan Sekadar Bertahan

Angka terbaru Bilibili cukup sulit diabaikan.

Pada kuartal kedua 2026, jumlah pengguna aktif harian mencapai 116,5 juta, naik sekitar 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total pendapatan juga mencapai sekitar RMB7,94 miliar, tumbuh 8% secara tahunan.

Yang lebih menarik, laba bersih mencapai sekitar RMB339,1 juta, naik 55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Artinya, Bilibili tidak hanya berhasil mempertahankan komunitasnya, tetapi juga mulai menunjukkan kemampuan monetisasi yang semakin matang.

Dan ini penting.

Sebab sebuah platform video tidak cukup hanya memiliki banyak pengguna.

Pengguna harus mau menghabiskan waktu, kreator harus mau membuat konten, dan pengiklan harus mau membayar.

Bilibili mulai menunjukkan ketiga hal tersebut secara bersamaan.

Yang Bikin Bilibili Menarik: Penggunanya Betah Lama

Salah satu angka yang paling menarik justru bukan jumlah pengguna.

Melainkan berapa lama mereka bertahan di platform.

Pada Q2 2026, rata-rata waktu penggunaan Bilibili mencapai sekitar 113 menit per hari. Total waktu yang dihabiskan pengguna juga meningkat sekitar 14% secara tahunan.

Ini menunjukkan bahwa Bilibili bukan sekadar aplikasi yang dibuka sebentar lalu ditutup.

Penggunanya benar-benar menghabiskan waktu untuk menikmati konten.

Bahkan dalam laporan semester pertama 2026, total waktu penggunaan tumbuh 17% dan konsumsi video berdurasi lebih dari lima menit tumbuh 20%.

Di tengah tren video pendek yang semakin dominan, angka ini cukup menarik.

Bilibili Tidak Mau Hanya Jadi Platform Video Pendek

Di sinilah perbedaan Bilibili mulai terlihat.

TikTok sangat kuat dengan video pendek dan sistem rekomendasi yang membuat pengguna terus melakukan swipe.

YouTube memiliki kombinasi video pendek, video panjang, live streaming, musik, podcast, dan berbagai jenis konten lainnya.

Sementara Bilibili punya kekuatan yang berbeda:

  • Konten video yang lebih panjang
  • Komunitas berbasis minat
  • Gaming
  • Anime dan budaya ACG
  • Konten edukasi
  • Teknologi
  • Musik
  • Entertainment
  • Konten kreator berbasis komunitas

Bilibili sendiri melaporkan bahwa waktu menonton video berdurasi lebih dari lima menit tumbuh 20% pada semester pertama 2026.

Jadi, Bilibili tidak harus mengalahkan TikTok dalam video pendek untuk bisa tumbuh.

Mereka bisa memenangkan perhatian pengguna melalui konten yang lebih dalam dan komunitas yang lebih kuat.

Komunitas Jadi Senjata Utama Bilibili

Kalau YouTube punya ekosistem kreator dan TikTok punya algoritma rekomendasi yang sangat kuat, Bilibili punya senjata lain:

komunitas.

Dalam laporan semester pertama 2026, Bilibili menyebut penggunanya menghasilkan lebih dari 17 miliar interaksi setiap bulan.

Jumlah official members juga mencapai sekitar 299 juta, dengan retensi 12 bulan sekitar 80%.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan pengguna dengan platform bukan hanya soal menonton video.

Ada interaksi, komentar, komunitas, kreator, fandom, dan berbagai aktivitas yang membuat pengguna merasa menjadi bagian dari ekosistem.

Inilah sesuatu yang sulit ditiru hanya dengan algoritma.

Konten Knowledge dan AI Juga Ikut Naik

Jangan mengira Bilibili hanya tentang anime dan gaming.

Konten berbasis pengetahuan juga terus berkembang.

Pada semester pertama 2026, waktu konsumsi konten knowledge, termasuk informasi terkait AI, tumbuh sekitar 17% secara tahunan.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa Bilibili mulai semakin luas.

Pengguna tidak hanya datang untuk hiburan.

Mereka juga datang untuk belajar, mencari informasi, mengikuti perkembangan teknologi, dan menemukan konten berdasarkan minat tertentu.

Kalau tren tersebut terus berlanjut, Bilibili memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai platform interest-based video.

Kreatornya Juga Semakin Banyak

Platform video tidak akan berkembang tanpa kreator.

Dan Bilibili tampaknya memahami hal tersebut.

Pada semester pertama 2026, jumlah kreator dengan lebih dari 1.000 followers tumbuh sekitar 30% secara tahunan.

Rata-rata pendapatan per kreator juga meningkat 22% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ini penting karena semakin banyak kreator yang bisa menghasilkan uang, semakin besar pula kemungkinan mereka bertahan di platform.

Dan semakin banyak kreator bertahan, semakin banyak pula konten yang tersedia.

Terbentuklah sebuah siklus:

Kreator bertambah → konten bertambah → pengguna bertambah → engagement naik → monetisasi meningkat → kreator semakin tertarik.

Kalau siklus ini berjalan konsisten, pertumbuhan platform bisa menjadi semakin kuat.

Bagaimana dengan Bisnis Iklannya?

Nah, ini bagian yang membuat Bilibili semakin menarik bagi investor dan industri digital.

Pada Q2 2026, pendapatan iklan Bilibili tumbuh sekitar 28% YoY menjadi RMB3,13 miliar.

Sementara pada semester pertama 2026, pendapatan iklannya tumbuh sekitar 29% menjadi RMB5,72 miliar.

Artinya, semakin banyak waktu pengguna dihabiskan di Bilibili, semakin besar pula peluang platform untuk mengubah perhatian tersebut menjadi pendapatan iklan.

Dan di sinilah Bilibili mulai masuk ke wilayah yang sangat dikuasai YouTube dan TikTok.

Perebutan perhatian pengguna pada akhirnya adalah perebutan anggaran pengiklan.

Apakah YouTube Harus Takut?

Kalau yang dimaksud adalah ancaman langsung terhadap posisi YouTube secara global, jawabannya masih belum.

YouTube memiliki jangkauan global yang sangat luas dan ekosistem kreator yang sudah matang.

Bilibili saat ini masih memiliki basis utama di China.

Jadi, membandingkan keduanya hanya berdasarkan jumlah pengguna akan kurang tepat.

Namun, YouTube tetap bisa memperhatikan satu hal dari Bilibili:

loyalitas komunitas.

Bilibili menunjukkan bahwa platform video tidak harus selalu mengejar konten viral tercepat.

Platform juga bisa membangun pertumbuhan dari komunitas yang sangat spesifik dan memiliki ketertarikan kuat.

Model seperti ini bisa menjadi inspirasi sekaligus tantangan bagi platform video lainnya.

Lalu Bagaimana dengan TikTok?

Persaingan dengan TikTok juga sebenarnya berbeda.

TikTok sangat kuat dalam konten pendek, algoritma rekomendasi, dan kemampuan membuat video menjadi viral.

Bilibili lebih banyak bermain di area komunitas berbasis minat dan konten yang lebih mendalam.

Namun ada satu titik temu:

keduanya sama-sama berebut waktu pengguna.

Kalau seseorang menghabiskan dua jam di Bilibili, berarti ada waktu yang tidak dihabiskan di platform lain.

Karena itu, pertumbuhan engagement Bilibili tetap layak diperhatikan meskipun bisnisnya masih sangat berbeda dari TikTok.

Perbandingan Sederhana Bilibili vs YouTube vs TikTok

Platform Kekuatan Utama Karakter Konten
Bilibili Komunitas & interest-based content Video panjang, gaming, ACG, knowledge, entertainment
YouTube Ekosistem video global Short-form, long-form, live, podcast, musik
TikTok Rekomendasi & viralitas Dominan video pendek

Perbandingan di atas menggambarkan karakter umum masing-masing platform, bukan ukuran pasar atau jumlah pengguna secara langsung.

Bilibili Punya Masalah yang Harus Diselesaikan

Meski pertumbuhannya menarik, bukan berarti Bilibili tanpa masalah.

Salah satu tantangannya adalah skala internasional.

YouTube dan TikTok sudah memiliki posisi yang jauh lebih kuat di banyak pasar dunia.

Bilibili harus membuktikan apakah model komunitasnya bisa berkembang di luar pasar utamanya tanpa kehilangan karakter yang membuat platform tersebut unik.

Selain itu, pertumbuhan pengguna juga harus terus diterjemahkan menjadi monetisasi yang sehat.

Untuk saat ini arahnya cukup positif karena bisnis iklan tumbuh kuat dan profitabilitas membaik. Namun, mempertahankan pertumbuhan tersebut dalam jangka panjang tetap menjadi tantangan.

AI Bisa Jadi Senjata Baru Bilibili

Ada satu faktor lain yang tidak boleh dilupakan: AI.

Bilibili mengatakan AI digunakan untuk membantu proses pembuatan konten, discovery, dan efisiensi komersial.

AI juga membantu menurunkan hambatan bagi kreator untuk menghasilkan konten.

Kalau AI membuat kreator bisa menghasilkan konten lebih cepat sekaligus membantu konten yang tepat menemukan audiens yang tepat, engagement bisa semakin tinggi.

Dan kalau engagement meningkat, monetisasi juga berpotensi ikut terdorong.

AI + komunitas + kreator bisa menjadi kombinasi penting bagi Bilibili ke depannya.

Jadi, Apakah YouTube dan TikTok Perlu Waspada?

Kalau maksudnya harus panik karena Bilibili akan segera menggantikan YouTube dan TikTok, tentu belum.

Namun kalau maksudnya perlu memperhatikan strategi Bilibili, jawabannya jelas: iya.

Bilibili sedang menunjukkan bahwa ada model lain untuk membangun platform video besar.

Bukan hanya mengandalkan video viral.

Bukan hanya mengejar durasi sesingkat mungkin.

Tetapi membangun komunitas yang memiliki minat kuat dan membuat pengguna betah menghabiskan waktu.

Kesimpulan: Bilibili Belum Mengalahkan YouTube atau TikTok, Tapi...

Bilibili memang belum berada di posisi untuk disebut sebagai pengganti YouTube atau TikTok secara global.

Tetapi menyebutnya hanya sebagai platform video niche juga sudah mulai kurang tepat.

Dengan sekitar 371 juta MAU, 116,5 juta DAU, waktu penggunaan yang tinggi, pertumbuhan iklan hampir 30%, serta jumlah kreator yang terus meningkat, Bilibili sedang membangun ekosistem yang semakin serius.

Yang paling menarik bukan sekadar jumlah penggunanya.

Melainkan bagaimana Bilibili berhasil membuat pengguna datang karena minat, komunitas, dan konten yang lebih mendalam.

Kalau strategi tersebut terus berhasil dan Bilibili mampu memperluas pengaruhnya ke pasar internasional, persaingan industri video bisa menjadi semakin menarik.

Bilibili mungkin belum menjadi raksasa global seperti YouTube dan TikTok. Tapi melihat pertumbuhannya sekarang, mengabaikannya juga bukan pilihan yang bijak.

Jadi, apakah YouTube dan TikTok perlu waspada?

Bukan panik. Tapi sebaiknya mulai memperhatikan.

Majid Abana Segaf
Majid Abana Segaf Penebar Cinta Dari Negeri Fana

Posting Komentar untuk "Bilibili Makin Besar, YouTube dan TikTok Perlu Waspada?"