Dry Ice untuk Memadamkan Kebakaran Gambut, Seberapa Efektif Hasil Penelitiannya?
Dry ice biasanya dikenal sebagai bahan pendingin untuk menjaga makanan tetap beku atau menghasilkan efek kabut putih dalam sebuah pertunjukan. Namun, bahan yang sama ternyata juga menarik perhatian peneliti karena potensinya untuk membantu memadamkan kebakaran gambut.
Selama ini, pemadaman kebakaran hutan sering mengandalkan air, peralatan pemadam, dan dukungan pesawat atau helikopter. Masalahnya, api yang membakar lapisan gambut bisa terus bertahan di bawah permukaan tanah meskipun nyala api di atasnya sudah menghilang.
Di sinilah dry ice menjadi menarik. Penelitian yang diterbitkan dalam Fire Safety Journal pada Juli 2026 menguji dry ice bersama air, es biasa, dan nitrogen cair untuk melihat kemampuan masing-masing bahan dalam menekan pembakaran gambut yang membara.
Bagaimana Dry Ice Bisa Membantu Memadamkan Api?
Dry ice merupakan karbon dioksida (CO2) dalam bentuk padat. Pada tekanan atmosfer normal, bahan ini menyublim langsung menjadi gas tanpa melewati fase cair, dengan suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius.
Ada dua mekanisme yang membuatnya menarik untuk pemadaman kebakaran gambut.
Pertama, dry ice menyerap panas ketika menyublim. Proses ini membantu menurunkan suhu bahan yang terbakar. Kedua, gas karbon dioksida yang dihasilkan dapat menggantikan sebagian udara di sekitar titik pembakaran sehingga ketersediaan oksigen berkurang.
Kombinasi pendinginan dan pengurangan oksigen tersebut berpotensi menghambat proses pembakaran yang berlangsung perlahan di dalam gambut. Namun, hasilnya bergantung pada jumlah bahan, kadar air gambut, kedalaman bara, dan seberapa baik dry ice mencapai zona yang terbakar.
Penelitian 2026 Menunjukkan Hasil yang Menarik
Dalam penelitian yang diterbitkan di Fire Safety Journal, para peneliti membandingkan empat bahan pemadam, yaitu air, es, dry ice, dan nitrogen cair. Pengujian dilakukan dalam kondisi laboratorium dengan variasi kadar air gambut.
Hasilnya, dry ice menunjukkan kinerja terbaik dalam sejumlah pengujian, terutama karena mampu mempertahankan efek pendinginan lebih lama. Dalam sampel gambut kering dengan kadar air sekitar 10 persen, sekitar 0,8 kilogram dry ice diperlukan untuk mencapai pemadaman penuh pada kondisi pengujian tertentu.
Peneliti juga mencatat durasi pendinginan efektif hingga sekitar 175 menit dalam kondisi eksperimen. Angka ini bukan jaminan bahwa dry ice akan menjaga seluruh area hutan tetap dingin selama periode yang sama, melainkan hasil pengukuran pada konfigurasi pengujian mereka.
Temuan tersebut penting karena bara gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika suhu naik. Bahan yang mampu memperlambat penyebaran bara sekaligus mempertahankan efek pendinginan berpotensi memberi waktu tambahan bagi upaya pemadaman.
Apakah Dry Ice Bisa Dijatuhkan dari Pesawat?
Ini pertanyaan yang berbeda dari apakah dry ice bisa memadamkan bara gambut dalam eksperimen laboratorium.
Menjatuhkan dry ice dari pesawat atau helikopter ke area kebakaran hutan yang luas menghadirkan tantangan tersendiri. Material harus mencapai lokasi yang tepat, menembus atau menyentuh zona pembakaran, dan tersedia dalam jumlah yang memadai. Angin, medan yang sulit, serta penyebaran gas juga dapat memengaruhi hasilnya.
Penelitian laboratorium belum cukup untuk memastikan bahwa metode tersebut akan bekerja dengan tingkat keberhasilan yang sama di lapangan. Karena itu, dry ice tidak seharusnya langsung dianggap sebagai pengganti sistem pemadaman hutan yang sudah digunakan petugas.
Pengujian lapangan perlu menilai kebutuhan material per luas area, biaya transportasi, keselamatan petugas, dampak terhadap tanah, dan kemungkinan bara menyala kembali setelah perlakuan selesai.
Dry Ice atau Air, Mana yang Lebih Baik?
Jawabannya bergantung pada kondisi kebakaran dan tujuan pemadaman. Air tetap mempunyai keunggulan besar karena relatif mudah diperoleh dan dapat digunakan dalam skala luas. Akan tetapi, air yang mengalir melalui tanah gambut berpori belum tentu mencapai seluruh bagian yang membara.
Dalam eksperimen yang dibahas, dry ice mampu mempertahankan efek pendinginan lebih lama daripada sejumlah bahan pembanding. Meski demikian, keunggulan pada sampel laboratorium tidak otomatis berarti dry ice lebih murah, lebih mudah didistribusikan, atau lebih efektif untuk seluruh jenis kebakaran hutan.
Untuk kebakaran gambut, strategi yang paling masuk akal adalah menilai kondisi lokasi terlebih dahulu, memastikan bara bawah tanah terdeteksi, lalu memilih kombinasi metode yang mampu menghentikan pembakaran dan mencegah penyalaan kembali.
Apa Risiko Penggunaan Dry Ice?
Dry ice bukan bahan yang bisa ditangani sembarangan. Suhunya yang sangat rendah dapat menyebabkan cedera dingin pada kulit. Selain itu, karbon dioksida yang dilepaskan dapat menggantikan oksigen dan menimbulkan bahaya sesak napas, terutama di ruang tertutup atau lokasi dengan ventilasi buruk.
Penggunaannya dalam pemadaman kebakaran juga perlu memperhitungkan dampak suhu ekstrem terhadap organisme tanah. Penelitian tersebut membahas potensi pemadaman, tetapi penerapan di ekosistem nyata tetap memerlukan evaluasi keselamatan dan lingkungan.
Kesimpulan: Potensial untuk Gambut, Belum Terbukti untuk Hutan Skala Besar
Dry ice bukan sekadar gagasan tanpa dasar ilmiah. Penelitian 2026 menunjukkan bahwa bahan ini berpotensi membantu memadamkan pembakaran gambut yang membara dalam kondisi laboratorium, dengan efek pendinginan yang bertahan relatif lama.
Namun, efektivitas di laboratorium dan keberhasilan memadamkan kebakaran hutan dalam skala besar adalah dua hal berbeda. Sebelum digunakan secara luas, metode ini masih membutuhkan pengujian lapangan, perhitungan biaya, serta evaluasi keselamatan dan dampak lingkungan.
Bagi Indonesia yang menghadapi tantangan kebakaran gambut, dry ice layak dipelajari sebagai salah satu kandidat teknologi pemadaman. Tetapi keputusan penerapannya harus didasarkan pada bukti lapangan, bukan hanya hasil eksperimen yang menjanjikan.
Sumber penelitian: Zhang dkk., “Suppressing underground peat fire and smoldering spread via water, ice, dry ice, and liquid nitrogen,” Fire Safety Journal, Volume 162, Juli 2026.

Posting Komentar untuk "Dry Ice untuk Memadamkan Kebakaran Gambut, Seberapa Efektif Hasil Penelitiannya?"