Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Google Maps Siapkan Navigasi 360 Derajat, Landmark Bisa Jadi Petunjuk Arah

Ilustrasi chibi navigasi Google Maps 360 derajat dengan landmark gunung, jembatan, dan gedung tinggi sebagai petunjuk arah.

Pernah merasa bingung ketika Google Maps menyuruh belok dalam jarak 300 meter, tetapi kita tidak tahu persis di mana titik beloknya? Masalah seperti ini cukup sering terjadi saat melewati jalan yang belum dikenal, terutama ketika banyak persimpangan atau bangunan di sekitar terlihat mirip.

Google berpotensi menawarkan pendekatan yang lebih mudah dipahami melalui teknologi navigasi berbasis landmark 360 derajat. Alih-alih hanya mengandalkan jarak dan arah belokan, sistem ini dapat menggunakan objek yang mudah dikenali di sekitar pengguna sebagai petunjuk perjalanan.

Konsep tersebut dijelaskan dalam dokumen paten Google berjudul Systems and Methods for Using Visual Landmarks in Initial Navigation. Paten ini menggambarkan cara sistem navigasi memilih landmark dari berbagai arah, termasuk objek yang tidak berada tepat di depan pengguna atau bahkan berada cukup jauh dari rute perjalanan.

Mengapa Google Maps Membutuhkan Petunjuk Berbasis Landmark?

Instruksi navigasi berbasis jarak memang praktis, tetapi tidak selalu mudah diterapkan di dunia nyata. Angka 500 meter mungkin terdengar sederhana, namun pengemudi tetap harus memperkirakan posisi kendaraan, membaca kondisi jalan, dan mengenali persimpangan yang dimaksud.

Masalahnya bisa lebih besar ketika seseorang baru memulai perjalanan. Pada posisi diam, ponsel belum tentu dapat mengetahui arah hadap pengguna secara akurat. Instruksi seperti “berjalan ke utara” juga kurang membantu apabila pengguna tidak mengetahui arah utara dari tempatnya berdiri.

Di sinilah landmark dapat memberikan konteks tambahan. Bangunan terkenal, jembatan, gunung, atau objek lain yang mudah dikenali bisa menjadi acuan untuk memahami arah. Pengguna tidak harus menerjemahkan setiap instruksi menjadi angka atau sudut kompas.

Menurut dokumen paten, sistem dapat memilih landmark yang berada dalam jangkauan 360 derajat dari lokasi awal pengguna. Artinya, objek yang dijadikan acuan tidak harus berada searah dengan perjalanan yang akan dimulai.

Landmark Bisa Berada di Belakang atau Jauh dari Rute

Salah satu bagian paling menarik dari konsep ini adalah penggunaan landmark yang berada di arah berlawanan dengan perjalanan. Misalnya, seseorang sedang berdiri di dekat air mancur dan ingin menuju sebuah bukit. Sistem secara konseptual dapat memberikan instruksi untuk berjalan menjauhi air mancur menuju bukit.

Pendekatan tersebut berbeda dari navigasi biasa yang cenderung berfokus pada arah tujuan. Landmark yang berada di belakang pengguna tetap bisa berguna karena memberikan titik referensi yang jelas untuk menentukan orientasi awal.

Google juga menjelaskan bahwa landmark tidak harus berada dekat dengan pengguna. Objek alam seperti gunung, maupun struktur buatan seperti jembatan, menara, dan gedung tinggi, berpotensi menjadi acuan selama dapat membantu pengguna memahami arah.

Bayangkan ketika memulai perjalanan di kawasan perkotaan yang memiliki gedung tinggi sebagai penanda. Daripada hanya mendengar instruksi “bergerak ke barat”, pengguna secara teori dapat memperoleh petunjuk yang menghubungkan posisi dirinya dengan gedung tersebut.

Namun, contoh-contoh ini merupakan gambaran kemampuan yang dijelaskan dalam paten, bukan bukti bahwa Google Maps sudah memberikan instruksi semacam itu kepada semua pengguna.

Bagaimana Sistem Mengenali Landmark?

Paten tersebut menjelaskan kemungkinan penggunaan kumpulan foto yang tersedia secara online untuk mengenali objek dan memperkirakan lokasinya. Sistem dapat menganalisis beberapa foto dari landmark yang sama, memperkirakan lokasi pengambilan gambar, lalu menentukan arah landmark tersebut dari posisi pengguna.

Informasi ini dapat membantu sistem menghasilkan instruksi awal yang lebih mudah dipahami. Sebuah landmark yang terlihat dari kejauhan tetap dapat berguna sebagai petunjuk, meskipun tidak berada persis di sisi jalan yang akan dilewati.

Meski demikian, penggunaan foto dan data lokasi bukan berarti sistem dapat mengenali setiap objek secara sempurna. Kualitas gambar, ketepatan posisi, kondisi lingkungan, serta apakah landmark terlihat dari tempat pengguna berada akan memengaruhi kegunaannya.

Landmark Tidak Harus Selalu Berupa Objek yang Terlihat

Bagian lain yang menarik adalah kemungkinan penggunaan landmark sementara atau berbasis suara. Dalam dokumen paten, Google memberikan contoh acara konser di luar ruangan yang dilaporkan oleh pengguna. Sistem secara konseptual dapat menggunakan suara musik sebagai acuan untuk membantu seseorang menuju lokasi acara.

Dengan pendekatan ini, landmark tidak terbatas pada bangunan permanen. Informasi dari komunitas pengguna atau teknik otomatis dapat membantu mengenali objek atau aktivitas yang hanya ada pada waktu tertentu.

Contoh konser tersebut menunjukkan bahwa navigasi masa depan berpotensi menggabungkan informasi visual dan lingkungan sekitar. Akan tetapi, Google belum mengumumkan bahwa navigasi berbasis suara atau landmark sementara seperti ini akan menjadi fitur Google Maps yang tersedia untuk publik.

Google Maps Sudah Menggunakan Landmark dengan Gemini

Konsep 360 derajat ini perlu dibedakan dari fitur navigasi berbasis landmark yang telah diumumkan Google. Pada November 2025, Google memperkenalkan navigasi berbasis landmark dengan bantuan Gemini untuk Google Maps.

Fitur tersebut dapat menggunakan tempat yang mudah dikenali, seperti SPBU, restoran, dan bangunan terkenal, sebagai acuan petunjuk arah. Pengguna dapat menerima instruksi yang lebih spesifik, misalnya belok setelah melewati sebuah restoran, bukan hanya mendengar jarak dalam satuan meter.

Google menjelaskan bahwa sistem memanfaatkan informasi dari Google Maps dan citra Street View untuk memilih landmark yang mudah terlihat dari jalan. Dengan demikian, petunjuk arah dapat lebih dekat dengan kondisi yang benar-benar ditemui pengemudi.

Perbedaan utamanya, fitur landmark yang diumumkan Google berfokus pada objek yang mudah dikenali sepanjang rute, sedangkan paten 360 derajat menjelaskan kemungkinan pemilihan landmark dari berbagai arah saat pengguna baru memulai navigasi.

Untuk pembaca yang ingin mengikuti perkembangan teknologi Google lainnya, fairusmajid.com juga membahas berbagai kabar dan tips teknologi yang berkaitan dengan penggunaan layanan digital sehari-hari.

Apakah Navigasi 360 Derajat Akan Segera Hadir?

Belum ada jadwal peluncuran resmi untuk konsep navigasi 360 derajat tersebut. Paten menunjukkan teknologi yang dikembangkan atau dipertimbangkan, tetapi tidak otomatis menjamin bahwa fitur itu akan tersedia di Google Maps dalam waktu dekat.

Google sudah memiliki pengalaman mengembangkan navigasi berbasis landmark melalui Gemini. Karena itu, pengembangan yang lebih luas dengan mempertimbangkan objek dari berbagai arah merupakan kemungkinan yang menarik, meskipun penerapannya masih belum dapat dipastikan.

Jika kelak diterapkan, teknologi ini berpotensi membantu pengguna yang sedang berada di lokasi asing, kawasan dengan banyak persimpangan, atau tempat yang memiliki landmark geografis jelas. Instruksi navigasi dapat terasa lebih alami karena menghubungkan petunjuk digital dengan lingkungan nyata.

Namun, sistem tetap harus memilih landmark yang benar-benar berguna. Objek yang tertutup bangunan, terlalu jauh, atau tidak terlihat dari posisi pengguna mungkin tidak cocok dijadikan acuan. Navigasi yang baik juga harus tetap memperhatikan kondisi jalan dan keselamatan pengguna.

Kesimpulan

Konsep navigasi 360 derajat memperlihatkan bagaimana Google berpotensi membuat petunjuk arah lebih mudah dipahami dengan memanfaatkan landmark di sekitar pengguna. Gunung, jembatan, gedung tinggi, hingga objek sementara dapat menjadi acuan untuk membantu seseorang menentukan arah.

Untuk sekarang, teknologi tersebut masih berupa konsep yang dijelaskan dalam paten. Google Maps sudah memiliki navigasi berbasis landmark dengan Gemini, tetapi pengembangan 360 derajat masih menunggu kepastian lebih lanjut. Jika benar-benar diterapkan, pendekatan ini bisa menjadi langkah menarik menuju navigasi yang semakin memahami lingkungan nyata.

Suka dengan artikel ini?

Dukung fairusmajid.com agar terus berkarya dan mudah ditemukan di Google.

Tambahkan sebagai sumber pilihan

Dukung & Donasi

QRIS fairusmajid.com Scan dengan e-wallet atau m-banking apa pun yang mendukung QRIS.
Majid Abana Segaf
Majid Abana Segaf Penebar Cinta Dari Negeri Fana

Posting Komentar untuk "Google Maps Siapkan Navigasi 360 Derajat, Landmark Bisa Jadi Petunjuk Arah"