Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Website AI Coding Bisa Gagal Masuk Google? Cek 7 Masalah SEO Ini

Ilustrasi blogger memeriksa tujuh masalah technical SEO pada website hasil AI coding.

AI coding membuat siapa saja bisa membangun website tanpa harus menguasai seluruh proses pemrograman. Cukup jelaskan konsep yang diinginkan, lalu biarkan AI menyusun kode, tampilan, hingga fitur yang dibutuhkan.

Namun, ada satu hal yang sering terlewat: website yang terlihat sempurna belum tentu siap bersaing di Google.

Masalahnya bukan selalu pada desain atau kualitas konten. Sebuah website bisa memiliki struktur HTML yang kurang tepat, halaman yang sulit dirayapi, hingga pengaturan SEO yang berubah tanpa disadari setelah AI melakukan pembaruan.

Fenomena ini dikenal sebagai vibe coding, yaitu pendekatan membangun aplikasi atau website dengan bantuan AI melalui instruksi bahasa sehari-hari. Prosesnya memang praktis, tetapi hasilnya tetap membutuhkan pemeriksaan teknis.

Search Engine Land menyoroti tujuh pemeriksaan technical SEO yang perlu dilakukan pada website hasil AI coding. Berikut penjelasan dan cara menerapkannya agar website tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga lebih siap ditemukan melalui mesin pencari.

1. Tentukan apakah website membutuhkan CMS

Sebelum meminta AI membangun website dari nol, tentukan terlebih dahulu bagaimana konten akan dikelola.

Jika website hanya berupa landing page sederhana yang jarang berubah, pendekatan custom coding bisa menjadi pilihan. Namun, jika kamu berencana menerbitkan artikel, memperbarui halaman produk, atau mengelola banyak konten, penggunaan Content Management System (CMS) patut dipertimbangkan.

CMS yang sudah teruji biasanya menyediakan fitur penting seperti pengelolaan sitemap, pengaturan metadata, penyimpanan draf, dan pengalihan URL.

Sebaliknya, CMS buatan AI bisa membuat setiap perubahan konten bergantung pada perubahan kode. Akibatnya, satu pembaruan kecil berpotensi mengganggu bagian website yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik.

Pilih teknologi berdasarkan kebutuhan jangka panjang. Jangan sampai website yang awalnya mudah dibuat justru sulit dikembangkan ketika jumlah konten mulai bertambah.

2. Pastikan konten penting tersedia dalam HTML awal

Salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah konten yang baru muncul setelah JavaScript dijalankan.

Misalnya, AI membangun halaman yang menampilkan daftar artikel, ulasan pelanggan, atau katalog produk melalui proses rendering di browser. Pengunjung mungkin tetap bisa melihat semuanya, tetapi sistem perayap belum tentu menerima konten tersebut dengan cara yang sama.

Google dapat memproses JavaScript, tetapi proses rendering menambah tahapan sebelum konten bisa dipahami. Sementara itu, sebagian sistem pencarian berbasis AI memiliki keterbatasan dalam menjalankan JavaScript.

Karena itu, konten utama sebaiknya tersedia dalam HTML awal, terutama jika informasi tersebut penting untuk memahami topik halaman.

Cara memeriksanya cukup sederhana:

  • Buka halaman website yang ingin diperiksa.
  • Klik kanan, lalu pilih View Page Source.
  • Cari judul, teks utama, atau tautan penting yang seharusnya muncul.
  • Bandingkan dengan tampilan halaman di browser.

Jangan hanya mengandalkan menu Inspect Element karena panel tersebut menampilkan DOM setelah JavaScript berjalan. View Page Source membantu melihat HTML yang diterima browser pada awal pemuatan halaman.

3. Jangan biarkan AI menebak data schema markup

Schema markup membantu mesin pencari memahami informasi yang terdapat pada halaman website.

AI memang dapat menghasilkan kode structured data dengan cepat. Namun, validnya kode belum tentu berarti informasi di dalamnya benar.

Misalnya, AI bisa memasukkan alamat, jam operasional, harga, atau jenis bisnis yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Sebelum menambahkan schema, tentukan dahulu jenis data yang paling sesuai dengan website. Apakah halaman mewakili seseorang, organisasi, bisnis lokal, atau jenis entitas lainnya?

Setelah itu, berikan informasi yang akurat kepada AI. Pastikan setiap data dalam schema sesuai dengan informasi yang benar-benar ditampilkan di halaman.

Kamu juga bisa memeriksa hasilnya melalui Rich Results Test atau validator Schema.org. Pemeriksaan ini membantu menemukan kesalahan struktur, tetapi tetap diperlukan pengecekan manual untuk memastikan informasi tidak dibuat-buat.

4. Lindungi canonical, redirect, dan aturan SEO lainnya

AI coding tidak selalu memahami alasan di balik setiap keputusan teknis SEO.

Contohnya, sebuah halaman promosi memiliki canonical yang mengarah ke halaman layanan utama. Ketika kamu meminta AI memperbarui halaman promosi, AI mungkin mengubah canonical tersebut agar menunjuk ke dirinya sendiri.

Perubahan seperti ini bisa mengacaukan sinyal URL yang sebelumnya sudah direncanakan.

Masalah serupa dapat terjadi pada redirect, meta robots, dan struktur URL. Karena itu, simpan aturan SEO penting dalam dokumentasi proyek AI.

Tuliskan dengan jelas:

  • URL mana yang menjadi canonical dan alasannya.
  • Redirect mana yang harus dipertahankan.
  • Halaman mana yang boleh atau tidak boleh diindeks.
  • Elemen SEO mana yang tidak boleh diubah tanpa persetujuan.

Setelah AI melakukan pembaruan, lakukan pemeriksaan ulang. Kamu bisa menggunakan crawler seperti Screaming Frog atau memeriksa URL melalui Google Search Console.

Untuk memahami lebih lanjut pengelolaan URL, kamu juga bisa membaca panduan tentang optimasi SEO website di Fairus Majid.

5. Periksa perubahan teknologi yang digunakan platform

Website hasil AI coding sering dibangun menggunakan platform yang terus mengalami pembaruan.

Perubahan teknologi di sisi platform bisa memengaruhi cara halaman dirender, dikirim ke browser, atau diterima oleh crawler mesin pencari.

Sebagai contoh, pembaruan yang mengubah mekanisme rendering dapat memengaruhi bagaimana HTML awal disajikan kepada Googlebot.

Jangan langsung menganggap proyek lama otomatis menggunakan teknologi terbaru hanya karena platformnya sudah diperbarui.

Periksa dokumentasi platform yang digunakan, termasuk apakah proyek memakai server-side rendering, static rendering, atau client-side rendering.

Jika kamu ingin mengganti sistem rendering, perlakukan perubahan tersebut seperti migrasi website. Uji halaman penting, periksa respons server, dan pastikan struktur SEO tetap konsisten sebelum menerbitkan pembaruan.

6. Pastikan Googlebot bisa mengakses website

Website modern sering bergantung pada beberapa layanan sekaligus, seperti hosting, database, API, dan sistem perlindungan bot.

Masalah pada salah satu layanan tersebut bisa membuat halaman tidak dapat diakses oleh pengunjung maupun crawler.

Sebagai contoh, layanan database gratis mungkin menghentikan proyek yang tidak aktif dalam periode tertentu. Sistem perlindungan bot juga bisa salah mengidentifikasi Googlebot sebagai bot yang perlu diblokir.

Jika server sering mengembalikan error 5xx, Google dapat mengurangi aktivitas crawling. Sementara itu, halaman yang terus mengalami kegagalan akses bisa kehilangan visibilitas di hasil pencarian.

Untuk mengurangi risiko ini, periksa beberapa hal berikut:

  • Pastikan hosting dan database memiliki kapasitas yang memadai.
  • Periksa apakah layanan memiliki batas penggunaan atau mekanisme penghentian otomatis.
  • Pastikan Googlebot tidak diblokir oleh firewall atau sistem anti-bot.
  • Pantau laporan Page Indexing di Google Search Console untuk menemukan error server dan masalah akses.

Jangan hanya memeriksa apakah website bisa dibuka melalui browser pribadi. Uji juga bagaimana halaman merespons ketika diakses oleh crawler.

7. Jangan abaikan keamanan kode yang dibuat AI

Kode yang dihasilkan AI bisa berfungsi dengan baik tetapi masih memiliki celah keamanan.

Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada formulir, kolom input, dan fitur unggah file. Jika validasi input tidak diterapkan dengan benar, pihak lain berpotensi memasukkan kode berbahaya, menyebarkan spam, atau mengarahkan pengunjung ke halaman yang tidak diinginkan.

Website yang diretas dapat kehilangan kepercayaan pengunjung dan mengalami masalah pada hasil pencarian.

Gunakan layanan formulir yang sudah memiliki perlindungan spam jika kamu tidak membutuhkan sistem khusus. Untuk proyek yang menggunakan kode sendiri, pastikan dependensi diperbarui dan lakukan pemeriksaan keamanan secara berkala.

Jika kode disimpan di GitHub, aktifkan Dependabot alerts untuk mendapatkan pemberitahuan mengenai dependensi yang memiliki kerentanan keamanan.

Jangan lupa memeriksa laporan Security Issues di Google Search Console. Pemeriksaan tersebut bisa membantu menemukan masalah keamanan yang terdeteksi Google.

Kesimpulan: website bagus belum tentu siap untuk Google

AI coding membuat proses pembuatan website semakin cepat. Namun, kecepatan membangun bukan berarti seluruh aspek technical SEO sudah otomatis beres.

Sebelum meluncurkan website atau melakukan pembaruan besar, pastikan CMS sesuai kebutuhan, konten penting tersedia dalam HTML awal, schema markup akurat, aturan SEO terlindungi, platform diperiksa, Googlebot dapat mengakses halaman, dan keamanan kode tetap terjaga.

Tujuh pemeriksaan ini bukan jaminan website langsung masuk halaman pertama Google. Namun, langkah tersebut membantu mengurangi masalah teknis yang bisa menghambat proses crawling, indexing, dan pemahaman konten.

Jangan hanya bertanya kepada AI apakah website sudah siap. Lakukan pemeriksaan nyata, karena kode yang terlihat benar belum tentu bekerja sesuai kebutuhan SEO.

Suka dengan artikel ini?

Dukung fairusmajid.com agar terus berkarya dan mudah ditemukan di Google.

Tambahkan sebagai sumber pilihan

Dukung & Donasi

QRIS fairusmajid.com Scan dengan e-wallet atau m-banking apa pun yang mendukung QRIS.
Majid Abana Segaf
Majid Abana Segaf Penebar Cinta Dari Negeri Fana

Posting Komentar untuk "Website AI Coding Bisa Gagal Masuk Google? Cek 7 Masalah SEO Ini"