Tradisi Minum Susu Putih di 1 Muharram, Sekadar Kebiasaan atau Penuh Makna?
Setiap kali memasuki Tahun Baru Islam, ada banyak amalan dan tradisi yang dilakukan oleh kaum muslimin di berbagai daerah. Ada yang memperbanyak doa awal tahun, membaca dzikir, bersedekah, hingga melakukan berbagai bentuk tafa'ul atau mengambil pertanda baik sebagai bentuk harapan kepada Allah SWT.
Salah satu tradisi yang cukup dikenal di kalangan para pecinta ulama dan habaib adalah minum susu putih pada malam atau tanggal 1 Muharram. Tradisi ini kembali ramai dibicarakan setelah banyak beredar poster dan nasihat para ulama yang menjelaskan keutamaan serta makna di balik kebiasaan tersebut.
Lalu, sebenarnya apa makna minum susu putih di awal Muharram? Apakah ada filosofinya? Yuk, kita bahas dengan santai.
Tahun Baru Islam, Momentum Memulai Hal yang Baik
Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai salah satu bulan Allah (Syahrullah).
Masuknya bulan Muharram sering dijadikan momen untuk melakukan refleksi diri. Sama seperti banyak orang membuat resolusi ketika memasuki tahun baru masehi, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbaiki diri ketika memasuki tahun Hijriah yang baru.
Karena itulah, banyak ulama mengajarkan berbagai bentuk doa dan harapan baik saat memasuki Muharram. Salah satunya adalah melalui simbol atau tafa'ul.
Apa Itu Tafa'ul?
Dalam poster yang beredar dijelaskan bahwa minum susu putih dilakukan sebagai bentuk tafa'ul.
Secara sederhana, tafa'ul adalah melakukan atau memilih sesuatu dengan harapan mendapatkan makna baik dari hal tersebut.
Misalnya seseorang memilih kata-kata yang baik, nama yang baik, atau melakukan suatu amalan yang memiliki simbol kebaikan. Semua itu dilakukan bukan karena benda atau tindakan tersebut memiliki kekuatan khusus, tetapi sebagai bentuk harapan dan doa kepada Allah SWT.
Jadi, ketika seseorang minum susu putih pada 1 Muharram, niatnya bukan karena susu itu dianggap membawa keberuntungan. Namun, warna putih susu dijadikan simbol kesucian, kebersihan hati, dan harapan agar sepanjang tahun dipenuhi kebaikan.
Kebiasaan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki
Tradisi ini banyak dikenal dari kebiasaan seorang ulama besar Makkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Diceritakan bahwa beliau ketika memasuki bulan Muharram memiliki kebiasaan minum susu putih dan membagikannya kepada para murid serta santri-santrinya.
Tindakan tersebut bukan sekadar minum susu biasa, melainkan sarana untuk mengajarkan optimisme, harapan baik, dan doa kepada Allah SWT agar tahun yang baru menjadi tahun yang penuh keberkahan.
Tradisi seperti ini kemudian diwariskan dan diamalkan oleh banyak murid serta pecinta beliau di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mengapa Harus Susu Putih?
Pertanyaan yang sering muncul adalah, kenapa harus susu putih?
Jawabannya terletak pada makna simboliknya.
Warna putih sejak dahulu identik dengan:
- Kesucian hati
- Kebersihan jiwa
- Kejujuran
- Kebaikan
- Cahaya dan petunjuk
Ketika seseorang meminum susu putih di awal Muharram, ia sedang berdoa dan berharap:
"Ya Allah, jadikan tahun ini tahun yang bersih dari dosa, penuh kebaikan, dan dipenuhi keberkahan."
Karena itu, fokus utamanya bukan pada susunya, melainkan pada doa dan harapan yang menyertainya.
Doa Saat Minum Susu
Dalam poster tersebut juga dicantumkan doa yang diajarkan ketika minum susu:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu
Artinya:
"Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami pada susu ini dan tambahkanlah kepada kami darinya."
Para ulama menjelaskan bahwa kata "tambahkanlah kepada kami darinya" tidak hanya dipahami sebagai tambahan susu semata, tetapi juga tambahan rezeki, kesehatan, keberkahan, dan berbagai nikmat dari Allah SWT.
Doa ini berasal dari sunnah Rasulullah SAW ketika meminum susu.
Kapan Waktu Melakukannya?
Berdasarkan tradisi yang banyak diamalkan, waktu pelaksanaannya adalah:
Setelah Maghrib pada malam 1 Muharram
Hingga sebelum masuk waktu Subuh
Namun, perlu dipahami bahwa ini bukan aturan baku yang wajib. Jika seseorang melakukannya pada tanggal 1 Muharram di waktu lain pun tidak menjadi masalah selama tujuan utamanya adalah berdoa dan mengambil makna baik.
Apakah Ada Kewajiban atau Keutamaan Khusus?
Hal yang penting untuk dipahami adalah bahwa minum susu putih pada 1 Muharram bukan kewajiban agama dan bukan pula ibadah yang memiliki hukum khusus seperti shalat atau puasa.
Tradisi ini lebih tepat dipahami sebagai:
- Kebiasaan para ulama
- Bentuk tafa'ul
- Sarana berdoa
- Simbol harapan baik
Karena itu, tidak perlu saling menyalahkan. Bagi yang ingin mengamalkannya sebagai bentuk doa dan harapan baik, silakan. Bagi yang tidak melakukannya juga tidak mengapa.
Yang terpenting adalah menjaga niat bahwa segala keberkahan datang hanya dari Allah SWT.
Pelajaran Indah di Balik Segelas Susu
Jika dipikir-pikir, ada pesan yang sangat menarik dari tradisi sederhana ini.
Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, manusia membutuhkan optimisme. Muharram mengajarkan bahwa setiap tahun baru adalah kesempatan untuk membuka lembaran baru.
Segelas susu putih seolah mengingatkan kita:
- Mulailah tahun dengan hati yang bersih.
- Tinggalkan kesalahan masa lalu.
- Perbanyak amal kebaikan.
- Perbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
- Berharap yang terbaik untuk masa depan.
Kadang-kadang, sebuah simbol sederhana mampu menghadirkan semangat baru dalam hidup.
Penutup
Tradisi minum susu putih pada tanggal 1 Muharram merupakan salah satu bentuk tafa'ul yang diajarkan dan dicontohkan oleh sebagian ulama, di antaranya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Melalui warna putih susu, umat Islam diajak untuk berharap agar tahun yang baru menjadi tahun yang bersih, penuh keberkahan, dan dipenuhi amal saleh.
Terlepas dari apakah kita mengamalkannya atau tidak, pesan yang paling penting adalah menjadikan Muharram sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Semoga tahun Hijriah yang baru membawa keberkahan, kesehatan, kelapangan rezeki, serta kemudahan dalam segala urusan. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Posting Komentar untuk "Tradisi Minum Susu Putih di 1 Muharram, Sekadar Kebiasaan atau Penuh Makna?"