Google Hanya Mengindeks 10 dari 100 Artikel? Begini Cara Mencari Penyebabnya
Sudah menulis 100 artikel, tetapi Google baru mengindeks 10 di antaranya? Situasi seperti ini bisa bikin frustrasi, apalagi kalau setiap artikel sudah dibuat dengan riset keyword, judul SEO, dan struktur yang rapi.
Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa blog terkena penalti Google atau sitemap bermasalah. Artikel yang belum terindeks bisa disebabkan oleh beberapa hal berbeda, mulai dari Google yang belum mengunjungi halaman, masalah teknis, konten yang terlalu mirip, hingga halaman yang belum dianggap cukup bernilai untuk dimasukkan ke indeks.
Supaya tidak menghabiskan waktu dengan mencoba berbagai cara secara acak, kita perlu mencari tahu terlebih dahulu di tahap mana masalahnya terjadi.
1. Bedakan Artikel yang Belum Ditemukan dan Belum Diindeks
Langkah pertama adalah membuka Google Search Console, lalu masuk ke laporan Pengindeksan halaman (Page indexing). Di sana, perhatikan jumlah halaman yang sudah diindeks dan halaman yang belum diindeks beserta alasannya.
Ada dua kondisi yang perlu dibedakan:
- Discovered – currently not indexed: Google sudah mengetahui URL tersebut, tetapi belum mengindeksnya. Halaman ini belum tentu sudah dikunjungi Googlebot.
- Crawled – currently not indexed: Google sudah mengunjungi halaman, tetapi halaman tersebut belum dimasukkan ke indeks.
Perbedaan ini penting karena penyebab dan langkah penanganannya tidak selalu sama. Jika banyak artikel berada dalam kategori pertama, periksa penemuan URL, internal link, dan prioritas crawling. Jika mayoritas berada dalam kategori kedua, evaluasi kualitas konten, keunikan informasi, dan kemungkinan duplikasi.
Perlu diingat, status tersebut bukan bukti otomatis bahwa konten buruk atau situs terkena hukuman. Gunakan statusnya sebagai petunjuk awal, bukan kesimpulan akhir.
2. Periksa Sampel URL, Jangan Langsung Mengubah Semua Artikel
Kesalahan yang sering terjadi adalah memperbaiki seluruh artikel sekaligus tanpa mengetahui akar masalahnya. Padahal, kamu bisa memulai dengan memeriksa sekitar 10–15 URL yang mewakili kondisi berbeda.
Pilih beberapa artikel yang sudah terindeks, beberapa yang belum terindeks, serta artikel dari kategori yang berbeda. Jika memungkinkan, sertakan artikel lama dan artikel yang baru diterbitkan.
Kemudian, buka fitur Inspeksi URL (URL Inspection) di Search Console. Periksa informasi berikut:
- Status indeks URL saat ini.
- Tanggal terakhir Google melakukan crawling, jika tersedia.
- Apakah crawling diizinkan.
- Apakah pengindeksan diizinkan.
- URL canonical yang dinyatakan oleh situs.
- URL canonical yang dipilih Google.
Jika artikel belum pernah di-crawl, fokuslah pada akses dan penemuan URL. Jika sudah di-crawl tetapi belum diindeks, periksa isi halaman dan hubungannya dengan artikel lain di situs.
Kamu juga bisa membaca panduan laporan Page indexing di Google Search Console untuk memahami alasan yang ditampilkan.
3. Cari Tahu Apakah Masalahnya Terjadi pada Banyak Artikel Sekaligus
Selanjutnya, jangan hanya melihat satu URL. Cari pola di antara artikel yang bermasalah.
Misalnya, apakah sebagian besar artikel dari satu kategori tidak terindeks? Apakah masalah hanya muncul pada artikel yang diterbitkan dalam periode tertentu? Atau justru artikel dengan format tertentu selalu mengalami kendala?
Bandingkan kelompok URL berdasarkan kategori, tanggal publikasi, jenis konten, dan status indeksnya. Pola yang konsisten dapat membantu mempersempit kemungkinan penyebab.
Contohnya, jika artikel dari semua kategori mengalami masalah yang sama, pemeriksaan teknis pada tingkat situs layak diprioritaskan. Sebaliknya, jika hanya artikel yang membahas topik serupa yang sulit terindeks, evaluasi kedalaman dan keunikan kontennya.
4. Periksa Canonical, Noindex, dan Robots.txt
Masalah teknis tetap perlu diperiksa, terutama jika jumlah halaman yang terindeks turun secara tiba-tiba atau banyak URL menunjukkan status yang sama.
Canonical
Canonical memberi sinyal mengenai URL utama untuk konten yang sama atau sangat mirip. Jika artikel A secara tidak sengaja menggunakan canonical menuju artikel B, Google dapat memilih artikel B sebagai versi utama.
Periksa apakah canonical pada artikel mengarah ke URL yang benar. Untuk artikel yang seharusnya berdiri sendiri, pastikan tidak ada canonical keliru yang mengarah ke halaman lain.
Meta robots noindex
Periksa apakah halaman mengandung arahan noindex yang tidak disengaja. Pada Blogger, pengaturan robots khusus, kondisi template, atau perubahan kode HTML dapat memengaruhi halaman tertentu.
Robots.txt
Pastikan tidak ada aturan yang memblokir crawling halaman penting. Perlu dibedakan bahwa robots.txt mengatur akses crawling, sedangkan noindex mengatur pengindeksan. Keduanya memiliki fungsi berbeda.
Jangan mengubah konfigurasi secara membabi buta. Pastikan dahulu masalahnya benar-benar berasal dari aturan tersebut, kemudian uji URL yang terdampak.
5. Evaluasi Kualitas dan Keunikan Artikel
Kalau Google sudah mengunjungi artikel tetapi tidak memasukkannya ke indeks, jangan hanya fokus pada aspek teknis. Periksa juga apakah setiap artikel benar-benar menawarkan informasi yang berbeda dan bermanfaat.
Beberapa hal yang layak dievaluasi meliputi:
- Informasi yang terlalu tipis: artikel hanya memberikan definisi singkat tanpa penjelasan, contoh, atau solusi yang memadai.
- Topik yang terlalu mirip: beberapa artikel menargetkan pertanyaan yang sama dengan pembahasan hampir identik.
- Informasi yang tidak lengkap: artikel tidak menjawab kebutuhan utama pembaca atau melewatkan detail penting.
- Konten yang kurang orisinal: artikel sekadar menyusun ulang informasi umum tanpa analisis, pengalaman, data, atau sudut pandang tambahan.
- Informasi yang sudah tidak relevan: artikel teknologi atau panduan lama masih menggunakan langkah dan data yang sudah berubah.
Artikel yang panjang belum tentu lebih layak diindeks. Sebaliknya, artikel pendek pun bisa bermanfaat jika menjawab pertanyaan dengan tepat. Fokuslah pada nilai informasi, bukan sekadar jumlah kata.
6. Audit Internal Link dan Struktur Blog
Artikel yang tidak terhubung dengan baik bisa lebih sulit ditemukan melalui navigasi internal situs. Karena itu, periksa apakah setiap artikel penting memiliki jalur yang jelas dari halaman lain.
Misalnya, artikel tentang masalah indeks bisa ditautkan secara kontekstual dari artikel yang membahas optimasi Blogger, SEO teknis, atau pengelolaan sitemap.
Gunakan anchor text yang menjelaskan isi halaman tujuan. Hindari menambahkan puluhan tautan secara acak hanya demi memperbanyak internal link.
Untuk blog Blogger, periksa juga apakah artikel mudah dijangkau melalui halaman kategori, navigasi, atau artikel terkait. Pastikan halaman penting tidak hanya bisa ditemukan melalui sitemap, tetapi juga memiliki hubungan yang masuk akal dengan konten lain.
7. Pastikan Sitemap Membantu, Bukan Menjadi Satu-satunya Andalan
Sitemap membantu Google menemukan URL yang ingin kamu prioritaskan untuk dikenali. Namun, sitemap yang berstatus sukses tidak menjamin semua URL di dalamnya akan diindeks.
Periksa apakah sitemap memuat URL artikel yang benar, dapat diakses, dan tidak mengarah ke halaman yang sudah dialihkan atau tidak perlu diindeks.
Jika sitemap sudah benar, tidak perlu mengirimkannya berulang kali setiap kali satu artikel belum terindeks. Lebih baik gunakan waktu untuk memahami status URL, memastikan internal link berfungsi, dan memperbaiki masalah yang benar-benar ditemukan.
Jika kamu mengelola blog Blogger, kamu juga bisa meninjau pembahasan lain di kategori Blogger di Fairus Majid untuk mendukung perbaikan teknis blog.
8. Gunakan Request Indexing Secara Selektif
Setelah memperbaiki masalah yang ditemukan, jalankan pengujian langsung atau Test Live URL pada halaman yang relevan. Jika halaman bisa diakses dan tidak lagi memiliki masalah teknis yang menghalangi pengindeksan, kamu dapat menggunakan fitur Request indexing.
Prioritaskan artikel yang benar-benar penting, sudah diperbaiki, atau baru mengalami perubahan berarti. Tidak perlu meminta pengindeksan untuk seluruh artikel berulang kali.
Permintaan tersebut hanya memberi tahu Google bahwa URL siap dipertimbangkan untuk crawling dan pengindeksan. Tidak ada jaminan bahwa halaman akan langsung diindeks atau pasti masuk ke hasil pencarian.
9. Buat Catatan Audit agar Perbaikan Lebih Terarah
Supaya prosesnya mudah dievaluasi, buat spreadsheet sederhana dengan kolom berikut:
- URL artikel.
- Tanggal publikasi.
- Status pengindeksan.
- Tanggal crawling terakhir.
- Canonical yang dipilih Google.
- Temuan utama.
- Tindakan perbaikan.
- Tanggal pemeriksaan ulang.
Dengan catatan ini, kamu bisa membandingkan artikel yang sudah terindeks dengan artikel yang belum terindeks tanpa bergantung pada perkiraan.
Evaluasi kembali setelah Google memiliki kesempatan untuk memproses perubahan. Jangan menganggap perbaikan gagal hanya karena statusnya belum berubah dalam satu atau dua hari.
Kesimpulan
Jika Google hanya mengindeks 10 dari 100 artikel, jangan langsung menganggap semua artikel bermasalah. Cari tahu lebih dahulu apakah Google belum menemukan URL, belum melakukan crawling, mengalami kendala teknis, atau sudah mengunjungi halaman tetapi belum memilihnya untuk indeks.
Mulailah dari laporan Page indexing, periksa sampel URL melalui URL Inspection, cari pola masalah, lalu evaluasi canonical, noindex, robots.txt, kualitas konten, dan internal link sesuai temuan.
Ingat, targetnya bukan sekadar membuat semua URL berstatus terindeks. Target yang lebih masuk akal adalah memastikan setiap artikel penting dapat diakses, memiliki informasi yang berguna dan berbeda, serta layak ditemukan oleh pembaca melalui Google Search.

Posting Komentar untuk "Google Hanya Mengindeks 10 dari 100 Artikel? Begini Cara Mencari Penyebabnya"